Terkadang kita saat kita tak menyadari, apa yang kita cari datang kepada kita, hanya saja saat itu mungkin kita tidak menyadarinya…

Ketika seseorang datang mengetuk pintu hati ini dan entah kenapa hati ini tampak seperti rindu padanya… walaupun baru sekedar kilasan pandangan mata…

Hidup itu sering kali mengejutkan kita, saat kita sudah merasa kita mengambil sebuah langkah yang tepat dalam menempuh umur kita, hanya dalam sekejap semua itu bisa berubah… keyakikan kita akan jalan yang kita tempuh itu tiba-tiba runtuh begitu saja… saat orang lain bertanya

” kenapa bisa kayak gitu?” … hanya diam yang bisa diucap oleh lisan ini, hati ku dapat merasakan tapi tak dapat sedikitpun kata-kata dapat tersusun…

Mungkin banyak orang yang merasa aneh, terkejut, bahkan tak suka dengan perubahan ini… namun tak dapat hati ini dibohongi… aku tak tahu apa ini salah atau tidak… bagaimana akhir dari perjalanan ini pun aku tak bisa menebak…

Saat ini yang hati ini rasa adalah niatan untuk membuat ini lebih baik… hati ini merasa inilah jalan yang aku cari sebenarnya… mudah-mudahan Langit mendengar doa hamba-Nya yang hina ini… untuk mempertahankan apa yang ia cinta…

“You have my heart, Hime-sama”

Terkadang dia melintas perlahan di hamparan langit malam seakan bertanya pada Tuhan, kapan diriNya akan menghentikan semua ini?

Semua luka yang ia derita ketika harus berputar tak tentu keseluruh pelosok alam, menatap diam ke dataran luas yang tak kunjung habis… membawa melodi semesta yang sendu ketika menetes air mata sang dara

Hening… tak ada suara saat ia berusaha bangun dari jenuhnya putaran bumi yang tak berhenti, menahan sesak yang muncul di dada ketika berakhir ia mencinta… adakah Tuhan mendengar isaknya?

Melayang pelan dirinya terbang memikul perih di tiap tetes air mata yang tumpah di penghujung senja…. tak bisakah ia memeluk diri yang ia cinta?

Seakan terpatahkan sayapnya, terjatuh ia dalam pelukan bunda bumi yang sunyi… terpenjara batinnya oleh dosanya, sakit ia karena cintanya. Ingin ia pergi saja menghilang tak kembali…

Ketika dirinya tak lagi bisa pergi…………….

Tersebutlah sebuah desa yang bernama Tugu Mukti daerah Cisarua, Bandung Barat…

Desanya tuh sepiiii bgt… banyakkan kebun dan sapi beserta kucing yang berkeliaran… nah desa yang indah nan rupawan ini adalah tempat KKN adel..  alhamdulillah desanya baguuus bgt, ada 13 rw yang kudu di observasi… nah sialnya, jarak antar rw ini jauh gila!! terutama di rw 1 yang ada di ujung bawah.. n rw 10 yang 1/2nya gunung… (4,5 km menempuh hutan rimba… believe me, real forest!)

Nah kmaren tuh, adel disuruh sama pak kades (ketika gw mo minta izin pulang jm 3 sore) untuk ngejemput seorang warga desa yang sedang post-operasi di… RSHS dan kembali lg ke lembang, jd bayangkan saja rute gw… Lembang-RSHS-Lembang… mati aja..

Nah, warga desa yang sangat baik hati itu memberikan “kado” gratis untuk yah sekedar terima kasih.. mau tau apa? gw di kasih sekarung besar… TOMAT… for God’s Sake..

Kenapa harus tomat??

Saat itu ia mendengar ketukan pelan di pintu rumahnya

Sang putri tersayang beranjak untuk segera membukanya

Berlari ia menghampiri tamu yang tak  dikira

Saat pintu terbuka, tampaklah rupa seorang hamba

 

Wajah tampan, tenang, mengucapkan salam kepada sang putri

Ternyata, sang pemilik rumahlah yang ia cari

“Ayah sedang sakit” ujar sang putri. “Datanglah lain kali.”

Pintu pun ditutup, meninggalkan rumah kembali dirundung sepi

 

Sang putri kembali melihat ayahnya terbaring lemah tak berdaya

”Siapakah yang datang tadi anakku?” lemas sang ayah bertanya

”Hanya seorang pria yang mencarimu ayah.” jawab putrinya

”Dia adalah yang membawa seorang hamba kembali pada penciptanya”

            Sang ayah berkata “ bukakan kembali pintu untuknya”

 

Dengan didampingi teman dan sahabat terbaiknya

Nafas sang ayah perlahan mulai terdengar hampa

Air mata sang putri terlihat mengalir lembut di pipinya

Kini temannya memalingkan wajah tak tega

 

“Mengapa kamu tak melihatku wahai teman?” ayah bertanya

Temannya berkata ”Siapa hamba yang tega melihatmu menderita”

Isak tangis sang putri semakin terdengar membahana

Dingin yang ia rasakan saat menyentuh kaki ayahnya

 

Sang sahabat mendampingi di sisi ranjang tuanya

Dengan semangkuk air ia membasuh tangannya

Perlahan sang sahabat mendengar kata terakhir darinya

“Ummatku, Ummatku, Ummatku.” terucap pelan dari bibirnya

 

 

 

Nascer do sol, palavras, milagre
Agua pura uma lagrima
Paz luz amor…
Fruto agreste respirao liberdade
Harmonia vento da bn o
Agradecimento…
Tempestade inquietao escurido
Luz do sol alegria gracias a deus…

15th October 2007

Sebuah cermin pantulan hati seorang wanita
Tak berdosa dirinya tatkala mengambil jalan cinta
Tapi apakah hina ketika telah sakit hatinya?
Jatuhkah dirinya saat pipi basah oleh air mata?

Warna apakah yang muncul di hatinya?
Merah laksana darah atau indahnya pelangi jingga?
Tampak letih matanya yang di derai cinta
Sakitkah batinnya?

Seekor burung hinggap di jendela jiwanya
Menyanyikan lagu pengiring tenangnya senja
Pupuskah harapannya demi cinta?
Ataukah pecah amarahnya di lautan penuh makna?

Pada akhirnya biarkanlah aku bertanya
Siapakah gerangan dirinya?
Apakah ini yang dinamakan cinta?
Ataukah ini hanya bayangan sebuah nama?

Sebuah cermin pantulan sebuah cinta
Berlikulah jalan yang diambil seorang wanita
Kelamkah malam di bawah sinar purnama?
Ataukah ini tak lebih dari fatamorgana jingga?

17th October 2007

Kadang langit menjadi kelam saat siang
Anehnya jiwa berubah kering kala air mata tergenang
Berputarkah bumi ini sayang?
Tak lain aku hanya mencari sinar terang

Menangislah pengembara membuka pintu hatinya
Dia membenci nyawanya dan menyalahkan Tuhannya
Tolonglah dia wahai penyulam senja
Pergilah ia mencari makna hidupnya

Terbukalah wahai mata hati!
Hidupkanlah kembali jiwa yang tlah mati
Biarlah berputar lagi waktu yang tlah berhenti
Nyalakan lagi kehidupan yang tak berarti

Apakah diriku ada wahai penguasa langit?
Tak bisa lagi hati ini bebas menjerit
Di dada ini hanya tersisa rasa sakit
Kelam laksana malam di bawah bulan sabit

Terkutuklah tiap langkahku yang berdarah
Mungkin kematian adalah sebuah anugerah
Layaknya bunga yang tak pernah merekah
Hidup ini bagaikan tembok keluh kesah

Terbukalah wahai mata hati
Biarlah terurai air mata nurani
Hancurkanlah singgasana keangkuhan diri
Hentikanlah segala nyanyian sepi

Ratapan nafas seorang pengembara
Dirinya tak lebih dari seekor binatang hina
Tak lagi mencari nyawa
Dan tak pula memiliki jiwa

Mengamuklah aku seorang diri
Siksalah tubuh ini dalam nyala api
Biarlah raga ini kembali suci
Hingga saat aku menghadap Yang Maha Tinggi

18th October 2007

Berceritalah Sang batu bijak tentang bunda bumi
Ketika itu dengan gundah sang bunda memeluk api
Di matanya mengalir air yang teramat murni
Adakah dirinya sedang bersedih hati?

Turunlah hujan memandikan gunung yang terbentang
Berlarilah sang kelinci biru beranjak pulang
Bunda bumi membuka dadanya dengan lapang
Akankah dirinya kembali terang?

Menarilah sang gadis bunga dalam cinta
Teriring nyanyian dan senyum sang bunda
Kembalilah sang anak langit pada bintangnya
Adakah ia mengetuk pintu surga?

Senandungkanlah lagu sang bunda
Hidupnya hanyalah untuk menengangkan jiwa
Sang peniup angin mengirimkan salamnya
Apakah bisa membuat sang bunda tertawa?

Biarlah butir pasir gurun menghilang
Yakinlah bahwa hari ini kan datang
Saat rerumputan berdendang
Ketika cinta sang bunda kembali pulang

July 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories